Senin, 30 September 2013

Filosofis Pendakian Gunung

Filosofi Pendakian Gunung adalah gambaran nyata bagi para pecinta pendakian gunung tentang hal - hal dalam diri yang sering mengatasnamakan para petualang. Pada masa kini, mendaki gunung adalah kegiatan yang bisa dilakukan secara acak hanya untuk mengisi waktu luang ataupun hanya sekedar ingin disebut Pecinta Alam. Dan disinilah Filosofi Pendakian Gunung terbentuk.

10 Tanaman hutan yang bisa dikonsumsi

Penjelajahan alam di hutan bahkan sampai kehabisan makanan mungkin tak pernah terbayangkan di benak Anda. Lalu bagaimana kalau ini terjadi? Salah satu cara bertahan hidup adalah memakan 10 tumbuhan hutan ini.

Tapi ternyata, tidak semua tumbuhan di dalam hutan layak untuk dimakan manusia. Salah - salah pilih bisa berakibat fatal seperti gangguan pencernaan. Dan berikut ini adalah tumbuhan yang mudah Anda temukan di hutan dan bisa dimakan untuk membantu Anda bertahan hidup di hutan:

Minggu, 25 November 2012

Catatan hidup seorang pendaki Everes


Waktu itu Hiroyuki Kuraoka (51) masih berusia 10 tahun. Di toko buku kecil di kota Abiko, Prefektur Chiba, Jepang, ia tersihir foto seorang pemanjat dinding yang terpampang gagah di majalah. Dari foto itu inspirasi terajut, obsesi terpahat, dan jalan hidup Hiroyuki digariskan.
”Saya mengamati foto itu selama satu jam,” kisah Hiroyuki atau Hiro, panggilannya. ”Saya selalu memikirkannya dan mulai mencoba memanjat tebing.”
Jika tak secara kebetulan bersua foto itu, bisa jadi Hiro tak menjadi salah satu pemanjat tebing dan pendaki gunung ulung. Selama 37 tahun bertualang, ia sudah memanjat air terjun tertinggi dunia, Angel Falls, tiga kali menapak tujuh puncak dunia di tujuh benua: Everest (Asia), Denali (Amerika Utara), Aconcagua (Amerika Selatan), Elbrus (Eropa), Vinson Massif (Antartika), Kilimanjaro (Afrika), dan Carstensz Pyramid (Indo-Australia).
Khusus untuk Everest (8.848 meter dari permukaan laut/mdpl), ia lima kali menapaki puncaknya. Gunung tertinggi di dunia ini memang spesial bagi Hiro, yang kini bekerja sebagai pemandu pendakian dari Mountain Experience untuk Everest.
Everest pula yang mempertemukan kami. Sore itu hari keenam pendakian, kami tiba di penginapan kecil di Dingboche, desa berketinggian 4.345 mdpl di lereng Gunung Everest, Nepal, bersama tim Mahitala, Universitas Parahyangan, Bandung.
Salju tipis turun dan angin yang berembus membawa gigil dingin. Sosok berperawakan kecil muncul dari jalan setapak di balik kabut. Dia tersenyum dan menjabat tangan kami. Tak ada kesan lelah, padahal dia baru turun dari Camp II Everest (6.600 mdpl), istirahat semalam di Base Camp (5.364 mdpl), dan langsung turun ke Dinboche begitu mendengar tim Mahitala tiba.